13 TKI di Singapura Raih Gelar Sarjana

By Reaksi Nasional 13 Nov 2019, 15:36:29 WIBNasional

13 TKI di Singapura Raih Gelar Sarjana

Keterangan Gambar : 13 PMI yang bekerja di Singapura diwisuda dan mereka berhak menyandang gelar sarjana akademik.


Oleh Friendly Sianipar

REAKSI JAKARTA – Sedikitnya 13 Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja sebagai penata rumah tangga di Singapure berhasil meraih gelar sarjana dari Universitas Terbuka (UT). Mereka diwisuda setelah memanfaatkan peluang belajar sembari bekerja di luar negeri.

Rata-rata para PMI itu memanfaatkan hari liburnya untuk mengikuti pendidikannya. Mereka mendapatkan hak cuti satu hari dalam seminggu dan peluang itu merupakan kesempatan bagi mereka untuk belajar.

“Kami selalu mengingatkan para TKI yang bekerja di Singapur agar meningkatkan keterampilan dan pendidikan melalui berbagai akses yang ada di sana," kata Atase Ketenagakerjaan di Singapur Devriel Sogia ketika menghadiri wisuda Pekerja Migran Indonesia di Gedung UT Convention Center, Tangerang, Selasa (12/11), sebagaimana rilis Humas Kemnaker yang diterima Renas, Rabu (13/11)

Ia menjelaskan, peluang untuk mengenyam pendidikan selama bekerja di Singapura didasari dua hal, yakni adanya kemauan keras meningkatkan keterampilan dan pendidikan serta adanya kesempatan yang diberikan oleh majikan.

"Dua hal ini saling terkait. Yaitu keinginan, upaya dia ingin maju, dan adanya kesempatan dari majikan," katanya.

Ia pun mencontohkan, Asmaunisak. Wanita yang menjadi PMI di Singapura ini selalu giat bekerja dan belajar. Meskipun ia menyelesaikan studinya selama 6 tahun, namun ia tetap berhasil meraih sarjana. 

Selain Asmaunisak, ada juga Nisak (36). PMI  asal Kendal, Jawa Tengah itu turut meraih gelar sarjana. Ia bersyukur dengan gelar sarjana yang diperolehnya.

“Saya sangat berkeinginan mengikuti pendidikan untuk meningkatkan keterampilan. Saya mendapat support dari majikan selama mengikuti pendidikan. Semoga ini bisa menjadi contoh bagi teman-teman pekerja migran lainnya,” katanya.

Ia menegaskan, pekerja migran itu bisa sekolah, kuliah. Untuk itu, kata Nisak menyarankan, orang yang bekerja di luar negeri jangan menganggap dirinya rendah, anggap diri kita ini pekerja, bukan pembantu.

Ia pun berterima kasih kepada majikannya, Mrs. Lisa Tan, yang turut mengantarkannya untuk wisuda di Indonesia. Tak hanya itu, majikannya juga telah membantu biaya pendidikan, biaya wisuda, hingga memfasilitasi keluarga Nisak untu datang di acara wisuda tersebut.

"Dia dan keluarganya support saya. Dia membayarkan kuliah saya, tiket pesawat, nginep di hotel juga dia yang bayar, tidak memotong gaji," ujar Nisak.

Nisak sendiri mengambil program pendidikan Sastra Inggris, Bidang Minat Penerjemahan. Selain Nisak, 12 PMI yang diwisuda adalah Ida Supartini dari program studi Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan, Jamilah (Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan), Maria Kareri Hara (Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan), Eti Maini (Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan).

Kemudian Reni Haryati (S1 Akuntansi), Tuti Sulistyaningsih (S1 Manajemen), Mahdalena (Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan), Dorince Lassa (Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan), Saryanti (S1 Ilmu Pemerintahan), Juwita Seo (Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan), Umi Nadhiroh (S1 Manajemen), dan Wiratna (Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan).

"Saya mengimbau kepada PMI bahwa bekerja ke Singapura hanya sebagai pijakan. Untuk maju ke depan dan membangun kehidupan yang lebih baik maka  salah satu upayanya adalah belajar sambil bekerja," kata Devriel.

Davriel menambahkan, selain pendidikan formal seperti yang diselenggarakan UT, Pemerintah Indonesia juga menyediakan sejumlah akses peningkatan keterampilan bagi PMI, yakni melalui Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kerja (P3K).

P3K katanya menjelaskan, adalah kursus selama 6 bulan yang terdiri dari 8 kejuruan. Yaitu Barista, Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, Komputer, Tata Kecantikan, Tata Rias Rambut, Menjahit, dan Baking. Saat ini, P3K di Singapura diikuti sekitar 600 PMI.

"Dari 8 kejuruan ini, kita akan terus meningkatkan kualitas pelatihan. Kita juga akan bekerja sama dengan BNSP guna mendapatkan sertifikasi yang diakui oleh Indonesia," ujarnya.

Sementara itu, Direktur UT Batam, Eliaki Gulo, menambahkan, program pendidikan bagi pekerja migran ini merupakan upaya mendekatkan akses peningkatan keterampilan dan pendidikan bagi WNI di luar negeri. Selain di Singapura, program ini juga ada di Kuala Lumpur dan Johor (Malaysia). Saat ini, mahasiswa UT di Singapura sebanyak 230 orang, Kuala Lumpur sebanyak 500 mahasiswa, dan Johor 280 mahasiswa.

"Ini adalah upaya bersama, bukan hanya UT namun juga pemerintah, untuk memberikan akses pendidikan kepada warga kita yang ada di luar sana," kata Eliaki. (R2)



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

IKLAN (ADVERTISEMENT)

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook dan twitter serta dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat



Komentar Terakhir

  • iyydveosqj

    Plunge Unbroken: Antithesis strays <a ...

    View Article
  • tpcntavvzp

    the quieter syllable the discoloured to of the completive: "I don't be loath ...

    View Article
  • Crypto Fashion

    That is very interesting, You're a very skilled blogger. I have joined your feed ...

    View Article
  • Bitcoin t shirt

    Having read this I believed it was rather enlightening. I appreciate you taking the ...

    View Article