Terdakwa Kasus Penggelapan Tuntut Keadilan Majelis Hakim PN Sumber

By Reaksi Nasional 04 Des 2019, 15:23:50 WIBHukum&Kriminal

Terdakwa Kasus Penggelapan Tuntut Keadilan Majelis Hakim PN Sumber

Keterangan Gambar : Kantor Pengadilan Negeri Sumber Cirebon.


Oleh Hafidzudin

REAKSI CIREBON - Kasus sidang dugaan penggelapan yang dilakukan oleh D dan sudah divonis 6 tahun oleh Pengadilan Negeri Sumber, kini merambah ke istrinya yang berinisial IT. IT sendiri dituntut lebih tinggi dari suaminya yaitu 7 tahun, padahal D dan IT bekerja di manajemen yang berbeda, walaupun masih dalam satu naungan kepemilikan perusahaan  yang bergerak di bidang makanan dan minuman. Kalau D bekerja di kantor Jawa Tengah, IT bekerja di Kantor Cirebon Jawa Barat.

Menurut Pengacara IT, Lusi, pihaknya keberatan pada tuntutan jaksa yaitu 7 tahun. Pasalnya menurut keterangan saksi D dalam perkara sebelumnya itu dia sudah melakukan penggelapan dalam jabatan itu mulai tahun 2013, walaupun dalam perusahaan itu yang namanya audit itu pasti ada keterlambatan. Jadi baru diketahui tahun 2015 atau 2016 oleh perusahaan.

“Jadi keberatannya kita itu kenapa pada proses di kepolisian nama SI itu tidak dimunculkan, padahal yang namanya perkara pencucuian uang (TPPU) itu kan indikasinya dengan orang-orang yang terdekat, jadi kita keberatannya disitu,” katanya, Selasa (3/12/19).

Ia pun merasa ada yang aneh, karena tuntutan jaksa penuntut umum itu untuk IT malah lebih tinggi dari pelaku utamanya.  Tuntutan terhadap pelaku utama hanya 6 tahun, tapi terhadap IT itu 7 tahun.

“Saya keberatannya kita lihat dari fakta persidangan terkait keterangan saksi ahli, fungsi saksi ahli kan untuk membuat terang sebuah perkara. Jadi saat kita menghadirkan saksi ahli, artinya orang yang memang sudah memenuhi kualifikasi atas keahliannya, Tetapi Jaksa tidak mempertimbangkan ketarangan saksi ahli padahal sudah ada BAP,” terangnya.

Ia menambahkan D dengan IT itu menikah pada bulan Maret tahun 2018. Menurut indikasi ada beberapa objek yang dibeli atas nama IT dan D sebelum menikah di tahun 2017. “Harapan kami putusan hakim mempunyai aspek yang berkeadilan terhadap klien saya. Klien saya pun mengakui tetapi pada derajat kesalahannya bukan untuk dipersalahkan secara membabi buta. Jadi penerapan pasal yang tetap sesuai dengan kesalahan dia,” katanya.

Sementara itu IT, menjelaskan kronologis kejadian tersebut ia mengatakan, dirinya mendapatkan telepon  pada tanggal 8 Februari hari Jumat jam 10 pagi tahun 2018 dari pimpinan suaminya, bahwa saat ini posisi mereka di kantor Semarang, kantor yang dikelola oleh suaminya, katanya suaminya melakukan penggelapan dalam jabatan.

“Saat itu saya merasa kaget, karena saya mengetahuinya dengan jelas setelah ada telepon dari pihak perusahaan sendiri. Saya sendiri tidak mengetahui apa yang terjadi dengan suami saya, pada saat itu saya belum bisa mengontek suami saya, saya sudah mencoba menghubunginya berkali-kali tapi tidak ada jawaban,” tukasnya.

Selanjutnya, keseokan harinya dirinya didatangi oleh pihak dari perusahaan. Mereka menjelaskan bahwa suaminya telah melakukan tindak kejahatan yang katanya menjual harga di bawah harga pabrik sekitar 3 miliar pada tahun 2016.

Dirinya sempat tidak percaya dengan hal tersebut. “Saya panik, apalagi kejadiannya itu tahun 2016, saya sempat tidak percaya, kenapa bisa terjadi selama itu,” ujarnya.

Dirinya pun terus berusaha melakukan mediasi dengan perusahaan, dan dia juga menghadirkan pengacara saat melakukan mediasi ke pihak perusahaan. “Saya tidak menghadiri mediasi di perusahaan, karena sudah ada pengacara jadi saya hanya sebatas  memfasilitasi apa yang dibutuhkan oleh pengacara,” katanya.

Masih menurutnya, terakhir menjelang lebaran dia mendapat panggilan sebagai saksi untuk suaminya yang dikenakan TPPU.

Keesokan harinya, dia bersama pengacaranya datang ke penyidik di Polresta, dan di situ ia mengaku sempat berdebat. “Saya punya penghasilan sendiri pada saat saya menjadi karyawan itu lebih besar dari penghasilan suami saya. Saya punya penghasilan dari kos-kosan, dari gudang yang saya sewakan dan tiap tahun saya dibayar kontan oleh pihak perusahaan. Itu juga sebelum saya menikah dengan D. Jadi wajar kalau saya memiliki aset sendiri, namun tetap tidak digubris,” ungkapnya.

Kemudian, dia mendapatkan surat lagi dari pengacaranya. “Saya pun dibikinkan surat lagi yang mengatakan kesukarelaan ibu sebagai istri untuk menyerahkan harta yang ibu punya. Itu surat saya dapatkan dari arahan pengacara saya, saya pun ikutin semuanya, karena posisi kita di dalam kita bisa apa,” katanya.

Padahal dirinya dengan D tidak dalam satu perusahaan, tetapi selalu mengkait-kaitkan dengan dirinya. Dirinya mengatakan, pada saat jadi saksi itu mereka bilang otak di balik semua ini adalah dirinya.

Saksi yang selama ini dipegang sama perusahaan itu selalu didampingi oleh pihak perusahaan termasuk mantan istrinya Deni. “Saya tahu sendiri pertanyaan yang muncul itu hanya pertanyaan yang umum saja, tidak seperti saya,” ungkapnya.

Ia berharap dengan tuntutan yang tujuh tahun, dia menginginkan keadilan yang seadil-adilnya. “Saya hanya ingin keadilan yang seadil-adilnya,” harapnya. (R2)



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

IKLAN (ADVERTISEMENT)

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook dan twitter serta dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat



Komentar Terakhir

  • ssytjuo

    where can i buy viagra yahoo answers buy viagra costa rica <a ...

    View Article
  • bqqaxai

    where do i buy viagra yahoo generic viagra cheap india ...

    View Article
  • qehrxhjtlp

    Chez these shortcomings are admittedly to <a ...

    View Article
  • soaqpwu

    buy viagra online from canada cheap viagra uk next day delivery ...

    View Article