Yanto Irianto Siap Menangkan Gugatan Mantan Panitera Pengganti PN Jakut

By Reaksi Nasional 09 Des 2019, 15:16:55 WIBHukum&Kriminal

Yanto Irianto Siap Menangkan Gugatan Mantan Panitera Pengganti PN Jakut

Keterangan Gambar : Yanto Irianto, kuasa hukum Rohadi.


Oleh Sukadi  

REAKSI CIREBON – Terkait kasus suap  pedangdut Saiful Jamil yang telah menjerat mantan panitera pengganti Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara Rohadi saat ini kembali menjadi perhatian publik. Selama ini terpidana hanya dijadikan tumbal agar otak yang menjadi pelaku utama atau penikmati suap lolos dari jeratan hukum.

Yanto Irianto, selaku kuasa hukum Rohadi, mengungkapkan selama ini proses persidangan dan konstruksi hukum mantan panitera pengganti Jakarta Utara Rohadi yang saat ini masih menjalani masa hukuman selama tujuh tahun penjara di Lapas Suka Miskin, Bandung, Jawa Barat.

Dalam memori Peninjauan Kembali (PK) kasus Rohadi sudah dijabarkan, bahwa setiap kasus pidana yang melibatkan banyak orang pasti ada otak atau dalangnya, sehingga perlu pihak-pihak terkait harus bisa mempertimbangkan perkara ini dalam kontek yang bijaksana. Dalam konstruksi kasus Rohadi itu sendiri, kata Yanto, tidak seharusnya terpidana itu dijerat dengan Pasal 12 huruf a karena bukan merupakan otak pelaku utama terjadinya skandal suap kasus Saiful Jamil.

“Logikanya, setiap kasus pidana yang melibatkan banyak orang pasti ada otaknya. Harus ada otaknya. Nah, oleh karena itu, ada keinginan Hakim Majelis Pengadilan Tipikor pada Majelis PN Jakarta Pusat meloloskan hakim-hakim sebagai otak, sebagai inisiator, sebagai penerima uang suap agar tidak dijerat hukum. Maka dia harus memunculkan otak pelaku dan akhirnya dibebankan kepada Rohadi,” ungkapnya, di Kantornya LBH Pancaran Hati Kabupaten Cirebon, Senin (9/12/19).

Masih menurut Yanto, Rohadi selama ini hanya menjadi korban, kendati melakukan kesalahan. Pasalnya, dia memikul beban pidana yang dilakukan oleh atasannya.

“Kalau hakim tidak menjadikan Rohadi sebagai otak dari pelaku pidana, maka Majelis Hakim akan terbebani untuk mencari otak lainnya, karena sebuah tindak pidana yang melibatkan banyak orang mesti ada otak pelakunya. Mereka berniat menyelamatkan hakim-hakim penerima suap itu sehingga membebani otak kepada Rohadi,” ungkapnya.

Yanto menambahkan, pada tingkat Pengadilan Tipikor di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Rohadi divonis dengan hukuman berat  dan memikul beban pidana yang melampaui perbuatannya.

Sementara para penikmat suap yang menjadi otak itu sendiri masih lolos dari jeratan hukum. Dia dihukum dengan Pasal 12 huruf a, sementara perbuatannya dia itu mestinya layak dihukum dengan Pasal 11 UU Tipikor.

“Kami siap melakukan upaya semaksimal mungkin dalam membela Rohadi untuk menerima keadilan yang seadil-adilnya dari pihak Mejelis Hakim karena Rohadi memang jelas adalah tumbal dan otaknya sampai dengan sampai dengan saat ini belum ada proses apapun dari pihak terkait,” tukasnya. (R2)



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment