Hantu Belang Kali Mati Cisadane Menebar Maut Sepanjang Hari

By Reaksi Nasional 21 Okt 2019, 15:19:08 WIBRagam

Hantu Belang Kali Mati Cisadane Menebar Maut Sepanjang Hari

Keterangan Gambar : Nasir Ning, Ketua Kelompok Tani Tan Wan Tjok dan tim.


Oleh Johny Siregar & Mercy

REAKSI TANGERANG - Kondisi Kali Cisadane  yang dulu menjadi ikon Kota Tangerang  kini kondisinya memprihatinkan dan butuh perhatian semua  pihak. Keindahan panorama dan kelestarian lingkungan yang merusak Kali Mati Kali Cisadane di Tanjung Burung Teluknaga  karena sikap dan perilaku buruk segelintir orang yang secara terang-terangan mencemari dan merusak Kali Cisadane.

Nasir Ning kepada Reaksi, Senin ( 21/ 10/2019) menceritakan air Kali Cisadane kini sudah tidak layak dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk untuk pertanian, peternakan, dan pertambakan. Karena air Kali Cisada tambah keruh, hitam, sangat bau, penuh sampah dan limbah cair berbahaya yang berasal dari pabrik, seperti pabrik tekstil.

“Jika mengenai kulit rasanya gatal-gatal. Sudah lama warga tidak memanfaatkan air Cisadane,” ucapnya.

Menurutnya, kalau digunakan untuk pertanian, lebih 40 hektar tanaman padi malah kena penyakit seperti wereng, tanaman jadi hitam, kemudian tanaman padi mati. Jika air kali itu dialirkan ke tambak ikan akan mabuk selanjutnya mati. Akibatnya, Kali Cisadane sangat menakutkan sekarang ini karena hampir setiap hari menebar maut. Padahal, sekitar 12.250 KK lebih warga Tanjung Buruk tinggal di pinggiran Kali Cisadane.

"Sepanjang kurang  lebih 12-15 Km kiri dan kanan Daerah Aliran Sungai  Kali Cisadane dipenuhi aktivitas perlapakan sampah,” katanya.

Ratusan  lapak dan pemulung mengorek dan memilah sampah di Daerah Aliran Sungai  Kali Cisadane. Mereka secara terang-terangan membuang sisa-sisa sampahnya beberapa ton ke kali setiap hari.

Persoalan utama dan serius adalah para pelapak tidak bertanggungjawab pada sisa-sisa sampahnya yang dianggap tak bernilai, sebagian besar membuangnya ke Kali Cisadane. Dan sebagian dibakar. Setiap hari pagi hingga malam hari terjadi kegiatan pembuangan sampah ke kali, mayoritas sampah plastik, karet, kain, popok, pampers, busa/kasur, kayu dan lain lainnya.

Seharusnya, kata Nasir Ning, para pelapak bersama pemasok sampah tersebut menyediakan teknologi pemusnah sampah/ limbah. Hal itu dianggap merupakan solusi terbaik saat ini.

Kali Cisadane menuju muara laut Teluk Naga itu menjadi tong sampah raksasa.  Kondisinya semakin memprihatinkan, kualitas air kali semakin buruk karena semakin massifnya pabrik-pabrik, seperti pabrik tekstil dan lainnya di Tangerang membuang limbah cairnya ke Kali Cisadane. Secara kasat mata, airnya keruh, kehitaman, sangat baru, dan sejumlah biota air mati. Ikan sapu-sapu pun ikut mati, padahal merupakan ikan yang paling kuat daya tahannya.

Menurut informasi tokoh masyarakat Tanjung Burung, pada tahun 1980-an dan 1990-an air Kali Cisadane masih bening, jernih, segar dan berbagai ikan hidup dan berkembangbiak. Warga sekitar memanfaatkan air kali untuk keperluan sehari, seperti mandi, cuci, untuk ternak, pertanian, tambak, dll. Kondisinya berubah drastis  pada tahun 2000-an.

“Semakin banyak pabrik membuang limbahnya ke kali, semakin banyak juga penjahat lingkungan,” ucap warga.

Akibat menggunakan air Kali Cisadane, padi petani seluas 40 hektar rusak dan mati pada tahun ini. Demikian juga udang dan ikan bandeng yang mereka budidayakan mati akibat terpapar air kali tercampur limbah pabrik.

“Kerugian nelayan, petambak dan warga sekitar Kali Cisadane tak terkira. Hampir tiap tahun mengalami kerugian. Kali Cisadane tinggal nama, sampah dan limbah cair berbahaya terus memenuhi DAS dan kali itu. Hal ini diperparah derasnya tingkat sedimentasi. Kedalaman paling tengah tinggal sekitar 8 meteran, samping kanan dan kiri sekitar 4-6 meteran,” tutur Nasir.

Belum lagi ditambah kebiasaan warga sekitar membuang sampah ke sini. Lokasi yang terparah sebagai pembuangan sampah liar itu dikenal sebagai Kali Mati. Tak heran kalau di kalangan warga muncul istilah "Hantu Belang Kali Mati Cisadane". Ironisnya, kali ini menebar maut sepanjang hari.

Akibat menggunakan air Kali Cisadane padi petani seluas 40 hektar mengganas dan mati pada tahun ini. Demikian juga udang dan ikan bandeng yang mereka budidayakan mati akibat terpapar air kali tercemar limbah pabrik.

Kerugian nelayan, petambak dan warga sekitar Kali Cisadane tak terkira. Hampir tiap tahun mengalami kerugian. Kali ini terus dipenuhi sampah dan limbah cair berbahaya terus. Hal ini diperparah derasnya tingkat sedimentasi. Kedalaman paling tengah tinggal sekitar 8 meteran, samping kanan dan kiri sekitar 4-6 meteran.

“Jika pemerintah daerah dan pusat tidak respon cepat dan mengambil tindakan tegas, maka malapetaka Kali Mati Cisadane akan meluas. Dan menciptakan image buruk di tingkat nasional, regional dan internasional,” ungkapnya. (R2)



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

IKLAN (ADVERTISEMENT)

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook dan twitter serta dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat



Komentar Terakhir

  • NebkvoGlalf

    I was really itching to tails of some wager some change on some sports matches that ...

    View Article
  • MhciohGlalf

    I was actually itching to treat some wager some change on some sports matches that ...

    View Article
  • bitcoinmerch

    I'm gone to say to my little brother, that he should also pay a quick visit ...

    View Article
  • aztvtiuysu

    generic cialis <a href="http://usaviagline.com/">buy viagra canada</a> ...

    View Article